Kamis, 21 Maret 2013

Pariwisata, Industri, Budaya, Sosial, Ekonomi, Pemerintah

Melintasi negeri yang luas ini, mengamati people activty, budaya, alam, dan semua aspek kehidupan yang menyertainya. Memberikan kebanggaan yang tiada tara, tanpa bermaksud mencari cari kesalahan pihak terkait dalam hal ini dinas pariwisata atau pemerintah setempat. Koq gue merasa masih banyak yang harus dilakukan untuk membuat industri pariwisata Indonesia lebih baik, lebih maju, lebih menguntungkan bagi semua pihak.

Tak dapat dipungkiri, kemajuan dunia pariwisata kita seiring dengan peningkatan ekonomi masyarakat. Gimana mau jalan jalan kalau ndak punya uang. Buat makan aja susah, itu kalimat yang otomatis terlontar kalau ada penawaran berkunjung ke sebuah tempat wisata bagi sebagian masyarakat dengan tingkat ekonomi pas pas-an. Kalimat yang sama juga akan terlontar dari mulut gue saat ini kalau ada yang menawarkan hal tersebut.

Solusi sederhana dari menyiasati keadaan tersebut dapat ditemukan dengan paket paket wisata yang biasanya diorganisir oleh ibu ibu arisan di RT. Jadilah dengan biaya yang masih terjangkau karena urunan sesama tetangga, keluarga keluarga sederhana ini bisa berwisata ke tempat tempat yang sudah populer untuk sejenak lepas dari hiruk pikuk kota.

Namun jika kita lebih teliti, ada pertanyaan yang mengemuka, kenapa saat ini semua orang yang terlibat di dunia wisata menjadi sangat money oriented. segala sesuatunya menjadi sangat mahal saat ini. Apa hanya orang berduit yang bisa berwisata? Jadi bertambah lagi kalimat yang mengikuti hidup rakyat jelata,... orang miskin dilarang sakit dan dilarang berwisata. he he he

Ada banyak persamaan yang menjadi pola mengeruk uang bagi pelaku wisata di seluruh Indonesia, mulai dari parkir kendaraan yang seragam di semua tempat wisata. Untuk tempat wisata yang dikelola masyarakat setempat dan pemerintah setempat harga parkir nya sepakat 5.000 dan akan berlipat ganda kalau dikelola swasta. Secangkir kopi mix minimal 5000 bahkan sampai 10.000. teh botol 5.000, coca cola dan teman teman 10.000, indomie 10.000 sampai 15.000, Nasi goreng yang gak ada rasanya jadi 20.000 mulai dari Ragunan, Pangandaran, sampai Lombok. he he he... Luar Biasa.. jadi jangan tanya kalau makanan yang lebih punya nama dan biasa di konsumsi orang berduit.. 

Yang juga menjadi cara bagi banyak pengelola wisata terutama pemda, ada asuransi untuk kendaaraan yang memasuki areal wisata yang hanya berjarak paling jauh 1 kilometer, ada juga retribusi untuk kebersihan, dinas pendapatan daerah, asuransi jiwa, dan banyak tetek bengek lainnya yang dijadikan paket untuk pintu masuk daerah wisata. Mungkin semuanya akan terasa wajar jika semua yang kita bayar sesuai dengan apa yang kita temukan dilokasi tersebut. Fasilitas umumnya sangat alakadarnya, yang bagus hanya pintu gerbangnya yang pasti dibangun dari uang rakyat. 

Coba perhatikan tujuan wisata yang lebih khusus seperti Bali, Lombok, Karimun Jawa, Raja Ampat, Bunaken, Toba, dan wisata pantai, rasanya rakyat jelata seperti gue hanya bisa nonton di TV atau denger denger dari tetangga yang lebih beruntung.... Mahalllll pasti mas Bro n sist..... 

Trus apa yang dilakukan pemerintah dari negara yang lagi belajar demokrasi ini.... Retorika masa orba masih membayangi setiap langkah pemerintah.... PNS nya dari profesor sampai tamatan sma masih banyak yang membuat program yang hanya mementingkan bungkus luarnya, tidak sampai menyentuh persoalaan dasar, tidak terkordinasi dengan baik antar instasi menjadi kendala yang selalu ada. Banyak program yang nota bene dibayar dengan uang negara, hanya bagus di teori dan sangat buruk di pelaksanaannya. terus diklaim berhasil dengan parimeter yang lebih mengandalkan angka angka... Sebuah kebodohan yang terus berulang dan berulang... 

Setiap daerah punya ciri khas tersendiri, memang tidak diragukan lagi. Jangan heran kalau ke cipanas garut, mobil yang kita bawa dicuci setiap kita parkir, di hotel, tempat umum, warung makan, dengan setengah memaksa meminta kita membayar 15.000 sampai 20.000. Tanpa perduli kita baru aja cuci steam. Atau siap siap aja membayar sewa rakit yang hanya berjarak 100 meter dengan harga 80.000. ada juga masyarakat yang sengaja membuat portal di jalan masuk agar bisa mengutip 5.000 untuk setiap mobil wisatawan yang lewat. Jangan juga merasa berat kalau mau lihat sunrise kita harus bayar retribusi, Ada juga situs purbakala yang harus bayar 25.000 untuk setiap pengunjung sementara tak ada fasilitas umum yang memadai disana. 

Belum lagi jagoan jagoan lokal yang memasang tampang garang dan mengutip uang takut dengan karcis atau tanpa karcis. atau organisasi masyarakat yang merasa jadi penguasa daerah.

Jadi bersiaplah membayar dan membayar untuk menikmati keindahan negeri sendiri. Jika pemahaman bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini masih bisa kita terima dengan senang hati, namun tentunya jangan sampai berlebihan. Kita rakyat yang bodoh ini juga sangat menyadari bahwa tempat wisata perlu perawatan, dan pegawai pegawai yang bernaung dibawahnya perlu untuk makan anak bininya. Tetap jangan berlebihan.











Ini lah Indonesia, masihkah kita bangga menjadi Indonesia.

Negeri Diatas Awan

DIENG

Dieng... sebuah nama desa kecil yang ditenggarai merupakan desa terpencil di jawa tengah, namun dibalik stigma kalimat diatas, sesungguhnya Dieng merupakan sebuah tempat yang sangat menarik dari berbagai macam aspek ilmu pengetahuan, sosial budaya dan tentu aspek ekonomi. Negeri di atas awan yang laksana khayangan rasanya juga menjadi predikat Dieng...

Sejarah peradaban jawa masa lalu, menurut beberapa ahli ternyata berpusat di Dieng. Pembenaran dari pendapat diatas dapat dilihat dari peninggalan situs, prasasti, candi, dan artefak yang ditemukan disekitar Dieng. Peradaban masa lalu Dieng memang sangat tua dan kaya dengan nilai historis masa silam yang mungkin hanya bisa kita reka reka. Namun mengakui kebenaran pendapat bahwa Dieng merupakan pusat dan awal pembentukan budaya Jawa dapat di yakini dari peninggalan masa lalu yang terangkum dalam museum kaliasa Dieng. Bagian prasasti, artefak, situs dan candi menjelaskan kepada kita tentang tahun pembuatannya yang lebih tua dari kerajaan kerajaan awal yang berdiri di Jawa. seperti apa keterkaitan budaya dan agama atau kepercayaan yang dianut pada masa itu dengan kebuadayaan India?.... Rasanya menjadi topik tersendiri bagi peneliti. 
Add caption

Saat ini tentunya banyak asumsi atau pendapat yang layak dicermati bahwa Dieng masa lalu merupakan India kecil di tengah pulau Jawa, dan menjadi pusat peradaban dan budaya kerajaan kerajaan pertama di jawa...Sebuah kejayaan masa lalu yang bernilai tinggi dan tak ternilai.




Maka berkunjunglah ke Dieng tanpa pretensi masa lalu, nikmatilah Alam, Budaya, dan Candi Candi yang masih bisa kita temukan saat ini. Hiruplah kesejukan Dieng, Kagumi Panorama Alam yang menakjubkan dan temukan keunikan budayanya, maka kita akan sangat bersyukur negeri yang luas ini mempunyai Dieng yang sarat dengan keunikan, keindahan, dan pesona yang tiada banding... Rasakan sensasi suhu yang pada bulan juli sampai agustus bisa mencapai 0 derajat celcius. tanpa pretensi masa lalu dan just enjoy guys... 

Kamis, 13 Desember 2012

lombok-sumbawa 2012 program pariwisata???

Apa sih maksudnya program kunjungan wisata? benar benar ga ngerti apa maksud dari program pemerintah seperti tahun kunjungan wisata lombok-sumbawa 2012... Kenyataan di lapangan tidak menunjukan ada keinginan untuk menggenjot kunjungan wisatawan... Hanya seperti program yang bersifat ceremonial saja. Tidak cukup serius menjangkau infrastruktur atau materi yang dihandalkan... Tidak ada sinergi yang baik antar kementrian dan pihak terkait lainnya seperti media untuk mensukseskan program seperti itu, semua berjalan tanpa perbaikan yang signifikan yang akan mempengaruhi tingkat kunjugan wisatawan...
Materi Budaya atau alam yang menjadi andalan ya ... hanya hanya dipoles saat pencanangan tapi tidak kelanjutan... kalau begitu mending tidak perlu ada program seperti itu, kalau hanya berhenti sampai membuat brosur atau print ad maupun billboard raksasa... Sangat aneh rasanya di masa reformasi seperti sekarang program hanya jadi semacam retorika,, cuma teriak teriak ga tau juntrungannya.


Add caption






Senin, 15 Oktober 2012

Lombok oh Lombok

Kembali menginjakan kaki ke Lombok... Tidak kata bosan rasanya jika harus kembali menginjakan kaki ke Lombok... Mau Urusan tugas atau memang sekedar Liburan Singkat.... Buat gue dan sebagian teman... Lombok itu seperti rumah kedua...
Kalau sudah pernah ke Lombok apalagi yang sudah 2-3 kali, rasa kagum akan laut, pantai, dan suasananya bisa berubah jadi hal biasa. Namun Daya tarik untuk kembali sangat besar... walau tiket pesawat hampir 2X lipat dari Bali.. Keinginan untuk kembali ke Lombok bisa mengalahkan rasa sebel karena tiket yang melambung setinggi langit saat bule-bule dan orang kaya Jakarta dateng bersamaan saat liburan tiba.
Harga tiket saat normal sekitar 600-700 ribu bisa menjadi 1.8 juta saat musim liburan... permainan calo atau memang suplai dan deman yang meningkat.. entahlah...
Lombok memang tidak seperti Bali... dan gue berharap jangan pernah seperti Bali... karena Lombok harus punya identitas sendiri.... Yang perlu di tiru dari Bali adalah kreatifitas yang tidak pernah berhenti untuk memberi hal-hal yang baru.. Kenyamanan... Budaya yang sangat kental yang pokoknya sangat menjual ...
Lombok secara budaya dan atraksinya kalah dari Bali... Namun sebagai second choice Lombok harus nya bisa menjadi pilihan utama setelah Bali....
Ampenan dapat dijadikan sebuah contoh yang nyata bahwa lombok punya potensi yang lain dan belum digarap dgn baik, Ampenan adalah kota dimana sejarah lombok pertama kali dicatatkan. banyak keunikan yang bisa kita temukan di ampenan, mulai dari struktur bangunan, sosial budaya dan kuliner yang dapat menarik minat banyak wisatawan asing atau lokal.
Kendala lain adalah sikap masyarakat yang kadang mengganggu kenyamanan wisatawan, seperti di Tanjung An atau tempat lain, banyak pedagang yang menawarkan barang atau souvenir dengaan memaksa. Hal ini sedikit demi sedikit akan mengurangi tingkat kunjungan.


Senin, 01 Oktober 2012

Pariwisata Sumatera Barat

Sumatera Barat tentulah bukan negri yang asing buat gue...
Selama hampir 14 tahun bersekolah di tanah minang telah menanamkan banyak hal untuk mengarungi hidup.

Namun kita ga ngobrol hal-hal seperti itu di halaman ini. Beberapa waktu lalu gue punya kesempatan untuk meliput daerah2 tujuan wisata disini. Seperti biasa kami tidak pernah pake jalur dinas pariwisata, modal tanya sana-sini, internet dan langsung ke lokasi.

Yang sangat disayangkan dalam perjalanan ke Sumbar, koq gue merasa Sumatera Barat sangat tertinggal dari provinsi lain yang juga menjadi tujuan wisata di Indonesia. Jangan bicara Bali yang memang sudah go Internasional, atau Provinsi2 di Jawa yg memang punya banyak budayawan dan pemerhati budaya dan wisata.Bahkan Sumbar jauh lebih buruk dari NTB, SULTENG, SULSEL, SULUT, BANGKA BELITUNG. SUMSEL, SUMUT. KALTIM, KALBAR

Sedih banget liat potensi alam dan budaya sebesar Sumbar jadi tak berarti apa2, Jadi sebuah tontonan kecil di pinggir bibir jurang dunia yang semakin mengglobal... gue bingung nyari kata2 untuk mewakili perasaan sendiri.Yang pasti RANAH MINANG punya pesona yang besar untuk maju menjadi tujuan wisata. 

NAMUN tampaknya apa yang dilakukan para pejabat dinas terkait tak cukup berhasil menampilkan pesona tanah nenek moyang kami. Apa sih program2 mereka... gue berani adu argument dengan pejabat2 dinas terkait... buka mata anda para pejabat. ALAM TAKAMBANG JADIKAN GURU. Lihat kenyataan di lapangan cari terobosan jangan hanya menggelar raker tak tentu arah... RANAH MINANG terlalu besar dan agung jika terpinggirkan oleh provinsi lain yang hanya menjual wisata malam dan 1-2 pantai.. Kito punyo sado alahe... bukik, gunuang, pantai, ngarai, gua, budaya, banyak bana nan tasio-siokan.

Ayo dong para anak negri, kama se baliau2 nan santiang, katonyo banyak urang santiang di Minang. Kito lah tatingga jauh dari provinsi lain.... Bukan hanya dari pariwisata tapi dari hampir semua aspek kehidupan alah ciciang urang lain balari awak disiko juo baru......

Indak paralu lo urang awak ma import gubernur dari luar sumbar untuk manata ulang apo nan alah tatingga jauh tu.... Onde Mande apo se karajo Bapak2 yang terhormat. Kalau diterusin gak bakalan habis sumpah serapah gue.... 7 hari 7 malam gue masih punya kata kata penyesalan yang mendalam.

Beberapa hal yang ANEH di tempat2 wisata Sumbar...

1 . Parkir Rata-Rata 5.000... terus yang jaga kebanyakan preman2.... koq bisa rata2 segitu    ya.... dari pantai carocok, ngarai sianok, puncak lawang, sampai bukik tampek urang pacaran di payakumbuah... lupo namonyo. Itu jelas2 mengalahkan jakarta, Denpasar, Surabaya dan kota kota lainnya. Itu perda atau uang jago buat preman? Di tata dong hay para pejabat terkait.. bukan soal 5000 perak tapi cara yang tidak elegan...

2 . Retribusi masuk daerah wisata harusnya seimbang dengan apa yang orang berikan... Udah bayar setiap masuk daerah wisata, jalanannya rusak, hancur, wc umum nya rusak, tidak ada fasilitas  yang layak. Pantai Carocok pengecualiannya.. disana parkiran lebar, mulus. trus retribusinya cuma 3 ribu. 

3 . Sampah bertebaran dimana-mana.... Mana Padang yang dulu sering dapet Adipura bahkan pernah Adipura Kencana, Mana Bukit Tinggi yang nyaman tentram, Mana Padang Panjang yang Damai, Batusangkar yang resik.... Apo se karajo Angku2 Pejabat.... Indak paralu manjadi profesor untuk mengurus kota Anda Bos... Dengan hati yang bersih, naluri yang baik, lihat langsung ke lapangan, apa yang menjadi kebutuhan masyarakat, apa yang diperlukan masyarakat, All About Masyarakat.... masyarakat... itu nan paralu... Bagaimana caranya orang bisa hidup cukup, Bagaimana caranya Orang bisa hidup Tentram, cukup sandang pangan... indak paralu jadi profesor kaya' begituan... Dari dulu selalu ada ungkapan mambangkik batang tarandam,,, iko lah indak tarandam lah hanyuik ka lauik ma. 

4 . Tempat2 wisata sangat tidak terawat, lampu2 di ngalau mati lebih dari separuhnya... puncak lawang banyak tempat duduk yang berlumut, bekas coretan, dan terkesan seadanya... padahal pemandangannya jauh lebih bagus dari bukit manggis di karang asem bali... atau gardu pandang di dieng... Peninggalan kubu rajo dibiarkan ala kadarnya... medan nan bapaneh batu batikam ta onggok baitu se... pemandangan tabek patah nyaris tak mampu tampil mempesona... penjaga karcis retribusinya sangat ramah..

5. Kualitas tidak menjadi ukuran lagi,,, Coba angku2 lihat di ukiran yang terpasang di istana pagaruyuang.... sangat kasar, ala kadarnya. kaya nya yang penting ado.... Kenapa ga pasang ukiran pandai sikek atau nan lain yang lebih berkualitas... 

Masih banyak yang harus gue sesalin dalam perjalanan selintas pulang beberapa wwaktu yang lalu... Please jangan terbelenggu dengan kemegahan masa lalu. jangan silau kejayaan masa lampau.... Buka mata buka hati, kita orang awak urang nan santiang2... itu makonyo kapalo kito bukan untuk manjujuang barang belanjaan, tapi untuk bapikia... kan itu nan mambedakan urang jo baruak... urangbisa bapikia baruak indak.

Mudah2an angku nan terhormat di dinas terkait ado nan mambaco... atau tolong sampaikan halaman iko ka baliau2 tu... Ayo berdiskusi... cari jalan keluar... berbuat yang terbaik buat kampuang halaman... alah jauah awak ta tingga dari daerah lain.... onde mande ba;a bisa co itu.... ba'a lo iko... antah lah... indak paham ambo... gadang sarawa se sadonyo...









Selasa, 25 September 2012

Have Fun In Life: Desa Tenganan, Karangasem Bali

Have Fun In Life: Desa Tenganan, Karangasem Bali: Desa Tengganan Bali adalah salah satu desa bali aga (age) selain desa trunyan. Desa Tengganan berada di bali timur, karang asem. Gue nginep...

Have Fun In Life: Labuhan Pandan, Lombok Timur

Have Fun In Life: Labuhan Pandan, Lombok Timur: Mungkin ada banyak yang pernah liburan atau alasan profesional datang ke lombok timur, tapi untuk yang belom pernah ke lombok timur, ini gu...